18/04/17

Merindukan Tuan Yang Tidak Pernah Kembali

Subuh itu (18/4/2015), tidak sengaja aku terbangun dari mimpiku karena mendengar suara batuk yang begitu kencangnya. Batuk itu berasal dari ayahku. Setengah terduduk di kamar rumah sakit Cisarua, Puncak, tempat ia dirawat, aku melihat kedua kakak laki-lakiku sedang membantunya untuk membuang dahak.

“Sudah ada koko dan ade,” ucapku dalam hati.

Tak berapa lama, aku pun berbaring dan kembali terlelap.

Pagi hari pukul 06.30 WIB, ibu membangunkanku seperti biasa. Sudah berhari-hari kami sekeluarga menginap di kamar itu. Aku melihat wajah ayahku, dia sedang tidur.

Suster dating untuk mengecek. Dia pun memeriksa alat bantu buang air kecil yang dipasangkan pada ayahku sehari sebelumnya. Dia juga memindahkan letak infus ke kaki kanan ayahku. Infus itu dipindahkan karena tangannya sudah tidak memiliki tempat lagi untuk diinfus.

Seperti biasa, aku menuju warung-warung untuk mencari sarapan. Kembali ke kamar, duduk dan menonton tv sambil sesekali menoleh ke arah ayahku. Dia sedang tidur.

Aku memutuskan untuk mandi. Seusai mandi, ibuku mengajakku bicara soal pekerjaan yang baru saja aku dapatkan. Dia memintaku untuk menunda jadwal pekerjaanku. Aku bersikeras tidak mau karena lapangan pekerjaan sulit untuk didapatkan oleh mahasiswa yang kuliahnya lama sepertiku.

Usai berdebat, aku terdiam sambil melihat jendela dan menoleh ke ayahku. Dia tidur lama sekali, begitulah yang ada dalam benakku. Saat melihat ke luar jendela, aku melihat kedatangan sepupuku di halaman parkir rumah sakit. Aku pun memberitahu ibuku kalau mereka datang.

Ayahku masih terlelap. Sepupuku yang datang lantas menanyakan kondisi ayahku. Pikir kami, dia terlelap karena efek dari obat yang diminumnya pagi tadi. Lambat laun aku melihat perubahan warna di wajahnya. Pucat.

Nafasnya semakin berat. Bahkan, aku dapat menghitung berapa kali dia menarik dan membuang nafasnya. Semakin lama semakin melambat. Jantungku berdegup kencang, khayalku tidak ingin ini terjadi.

Dokter kami panggil. Seluruh keluarga yang sedang menunggunya diminta untuk keluar dari kamar. Pukul 10.00 WIB, dokter menyalami kakak pertamaku dan mengucapkan turut berbela sungkawa atas apa yang menimpa ayahku.

Tak kuasa air mata jatuh. Tak kuasa kami harus menerima kepergian dia. Ibuku histeris. Aku pun terdiam. Mengapa harus berakhir seperti ini?

Aku menghampiri ayahku, memegang wajah dan menciumnya. Air mataku jatuh. Tidak sempat aku meminta maaf pada ayahku karena pertengkaran yang sering kami lalui. Tidak akan ada lagi yang memarahiku kala aku lupa untuk pulang ke rumah.

Tidak akan ada sebutan “Neng” lagi padaku. Dan tidak akan ada lagi yang menyayangi dan memanjaku seperti dia.

Saat itu, aku hanya bias terbaring di sampingnya dan memeluk jazadnya. “Pah, maafin fira ya,” ujarku berbisik di telinga kirinya.
“Pak Buce, bangun yuk pak, sarapan dulu,” tuturku mengikuti gaya suster rumah sakit untuk menggodanya.

Kaku, tak sedikitpun dia meresponku. Hanya tertidur dan akan terus tertidur untuk selamanya.
Dengan segera kami membereskan kamar rumah sakit dari semua barang selama menginap. Dengan bantuan sepuppuku, barang kami titipkan pada mereka. Ibuku meminta bantuan pada kakak pertamanya untuk memesan kamar di rumah duka Sinar Kasih.

Satu persatu keluarga dari pihak ayahku dan ibuku pun menerima kabar tersebut. Mobil jenazah tiba di halaman parkir. Aku, ibuku serta kakak keduaku ikut di mobil tersebut. Air mata terus menetes dari mataku selama satu jam perjalanan tersebut dilakukan. Berada di dalam mobil itu pun tak pernah terbayangkan olehku.

Keluarga ibuku sudah berkumpul di rumah duka. Ayahku dibaringkan di sebuah tempat tidur untuk dimandikan. Kakak pertama dan ketigaku mengambil jas dan kemeja serta celana bahan untuk digunakan oleh ayahku. Sepasang kaos kaki dan sepatu baru pun turut dipasangkan pada ayahku.
Salah satu hal yang paling kusukai dari ayahku adalah tato di lengan kanannya. Tato itu memang hanya bergambar jangkar, tetapi bagiku itu sangat keren.  Ayahku yang menjadi inspirasiku untuk bernazar saat masih di bangku sekolah menengah pertama.

“Kalau sudah sukses dan mandiri, aku akan membuat tato di tubuhku.” Itulah nazar yang pernah kuucapkan.

Hari ini, tepat dua tahun ayahku pergi ke surga. Aku merindukannya. Dulu, aku sangat berharap dia menggandeng tanganku dan berjalan di dalam gereja saat sakramen perkawinanku. Namun, kenyataan berkata lain. Ayahku belum sempat menggandeng tanganku di dalam Gereja Katedral Bogor untuk saat itu.

Bahagia di surga, pah. I love you so much.


Dari, anak bungsumu yang suka minta disuapin apapun makanan yang sedang kau makan J

14/03/16

Harapan pada Yin dan Yang dalam Relasi

Permasalahan seorang perempuan dalam menjalin relasi sering dikaitkan dengan terlalu banyaknya menggunakan perasaan dibandingkan logika.
Entah kenapa, nampaknya itu bukan hal yang adil untuk diutarakan.

Apakah seorang lelaki pada akhirnya mengerti How to Treat a Woman?

Menurutku, yang seharusnya terjadi dalam sebuah relasi adalah terwujudnya Yin dan Yang. Aku sebagai Yin dan kamu adalah Yang. Kita adalah manusia yang saling berlawanan tapi seharusnya saling melengkapi bukan?

Yin yang ditandai sebagai satu yang lambat, lembut, menghasilkan, menyebar, dingin, basah dan pasif begitu erat denganku. Laksana elemen dalam bumi, aku adalah air, bumi, bulan, feminitas dan malam hari.

Haloo Yang, kamu yang begitu cepat, keras, padat, fokus, panas, kering dan agresif memang tak dapat aku hindari. Dalam bumi pun kita bersinergi saling membutuhkan atas api, langit, matahari, maskulinitas dan siang harimu.

Saat ini, aku sedang menunggu pelangi hadir dari basahnya airku yang turun. Kamu si langit yang mungkin juga menantikan hal yang sama denganku. Apakah pelangi itu akan tiba usai kemarahan kita menurun?

13/11/14

Rumah Tujuanku Pulang

kita sudah memasuki musim penghujan. rintikan air hujan sudah menyuburkan lagi tanah kering. segala hawa panas sedikit demi sedikit sudah mulai terangkat tergantikan oleh dingin dan kelabunya langit. biarlah untuk kali ini matahari beristirahat sejenak untuk kembali lagi dengan aktifitasnya beberapa bulan ke depan.

hujan, langit mendung, hawa dingin merupakan hal yang aku sukai. ditemani dengan segelas kopi dalam menyaksikan guyuran air hujan menerpa genteng-genteng bangunan dan jatuh turun melalui daun-daun pepohonan membuat kopi ini begitu bernyawa.

bukan lagi hati ini merasakan sendu sehingga hujan adalah hal yang kunikmati setiap tetesnya. tapi karena aku yakin, hujan (air) adalah sumber kehidupan. 

saat ini, aku duduk dengan menikmati segelas kopiku yang sudah hampir habis dengan iringan lagu dari band Indonesia favoritku. cuaca sehabis hujan, langit mendung masih menghiasi keindahan langit. 

"masih saja kuteringat, kata iringi kau pergi..
jadikan sore itu satu janji..
kau akan setia untukku, kembali untuk diriku..
mengingatku walau aku jauh.."
(SO7 - Tunggu Aku di Jakarta)

aku teringat akan hubungan jarak jauh yang sudah berlangsung cukup lama. lelah akan sebuah penantian, tapi mimpi dan harapan yang terlalu tinggi membuatku mengalahkan ego untuk pergi. 

cinta yang tulus hanya sebuah modal yang kumiliki untuk bisa menjalin hubungan yang indah pada waktunya. keterbatasanku yang seringkali menjadi penghalang hubungan ini seringkali menjadi sebuah kerikil dari setiap langkah yang kita lalui.

kamu yang menerimaku dengan sabar, kamu yang seringkali mengomeliku dengan tegas, kamu yang seringkali mencaci karena kesalahanku. kamu yang begitu kuat melekat dalam pikiran dan rasaku. jangan pernah pergi dari hidupku, aku terlalu larut dalam setiap rasa yang kau torehkan.

kamu, rumah yang kutuju dalam setiap langkahku.

21/07/14

Sekuat Baja Tidaklah Cukup

Menjadi kuat dan tegar memang haruslah terjadi pada setiap wanita. Wanita itu memang seharusnya memiliki mental yang kuat dan jiwa yang tegar. Aku bukan ingin membicarakan feminisme, aku hanya ingin agar semua wanita tidak terus dianggap lemah oleh sesamanya dan kaum adam.

Bukan karena pernah patah hati, bahkan sampai sekarang pun hati dan jiwa ini masih sering terluka. Aku bicara begini karena aku yang masih sering menangis hingga dadaku sungguh terasa sesak dan nafasku berat untuk kutarik. Aku hanya tidak ingin setiap wanita yang bahagia akhirnya mengalami hal menyakitkan.

Memang, menangis bukan berarti si empunya air mata itu lemah, namun terasa begitu letih ketika air mata menetes dengan luka hati yang begitu menusuk.Dan pasti akan ada uraian kata "cengeng sekali kamu." Ya, sudah bisa dipastikan dan terus berulang.

Apapun itu, sekecil apapun kesalahan itu yang bahkan bukanlah kesalahan dan hanya kesombongan ego yang tidak lepas dari manusianya, akan langsung menaikkan amarah pada yang merasa. Seberapa berdarah, seberapa berat perjuangan yang sudah dilakukan tidak akan bermakna baik bagi si pemarah.

Aku bukan ingin mengingat dan memendam luka, sungguh. Aku hanya sulit untuk tidak merasakan "sakit" yang seringkali ditorehkannya pada hati ini. Aku ingin menjadi seorang yang kuat dan tegar, walaupun kata teman-temanku, aku sudah menjadi orang yang tegar dan sabar.

Mungkin, sekuat baja tidaklah cukup untuk memiliki jiwa dan hati yang tegar. Mungkin memang aku harus menyelami laut untuk meniti spiritual di India, mendapatkan ketenangan dari dewi-dewi dan merasakan betapa berharganya diriku. Bukan terus diinjak dan terus merasa selalu ada yang kurang dari diri ini.

Jiwaku, teruslah temani aku untuk melangkahkan kaki dalam balutan luka yang sudah tertoreh di dalam tubuh ini.

dan ketika lagi nulisin rasa ini berputarlah lagu di playlist creed - don't stop dancing, diteruskan dengan coldplay - what if dan rasanya ingin mengalir lagi air mata ini.

01/07/14

Ramai Tahun Politik

Tahun 2014 adalah tahun politik bagi Indonesia, di mana setelah pemilihan umum legislatif dilanjutkan dengan pemilihan umum presiden. Dan, waow..sungguh ramai sekali tahun 2014 ini dengan berbagai argumen dari berbagai kalangan masyarakat.

Saya pun menjadi salah satu bagian karena saya merupakan bagian masyarakat Indonesia. kali ini, saya gemar sekali membaca berita-berita tentang capres kita dan tak urung berkomentar sedikit tentang capres. namun, saya berpikir, kenapa bisa seramai ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya? apakah karena tahun sebelumnya saya masih apatis dengan politik di Indonesia?

tapi, saya pikir, kali ini begitu ramai dan banyak yang berpartisipasi karena calon presiden kita hanya dua yaitu Bapak Jokowi dengan Bapak Prabowo dibarengi dengan cawapresnya yaitu Bapak Jusuf Kalla dengan Bapak Hatta Rajasa. Terlebih lagi, kedua capres itu merupakan tokoh yang namanya sudah booming sebelum mencalonkan diri. Bapak Jokowi dengan sepak terjangnya sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta serta Bapak Prabowo dengan sepak terjangnya sebagai Danjen Kopassus dalam Orde Baru.

hebatnya dalam pemilu ini bisa menggerakkan kepedulian masyarakat Indonesia tentang kemajuan bangsa dengan mengusung calonnya masing-masing. Saya salah satunya. Saya, orang yang termasuk apatis dengan politik di Indonesia, tapi saya pun terkadang penasaran dengan hal tersebut. Akhirnya, pemilu presiden saat ini, saya harus menunjukkan kepedulian saya akan kemajuan bangsa nantinya.

entah mengapa, pemilu presiden saat ini, saya merasa seperti masuk dalam orde baru. Saya seperti melihat aktivis-aktivis yang ingin menurunkan rezim orde baru yaitu terhadap salah satu calon. Seperti perjuangan reformasi yang terjadi dengan waktu dan situasi yang berbeda.

saya yakin ketika pemilihan nanti, rasa cemas dan jantung yang berdetak kencang serta resah bercampur aduk melihat siapakah yang akan memimpin kita lima tahun ke depan. saya yakin, suasana 9 Juli nanti seperti saat harap-harap cemas menanti Soeharto melalui siaran persnya menyatakan kalau ia mundur sebagai presiden.

jadi, pilihlah capres dari lubuk hatimu yang terdalam, jangan ada intervensi dan hasutan orang lain tapi yang memang benar kamu yakini. Jangan lupa, jaman sudah canggih, internet di mana-mana, gunakan smartphonemu untuk browsing hal-hal berguna terkait kedua calon. Jangan hanya mencari satu sumber tapi cari juga referensi lain. cari juga sejarah dan latar belakang kedua capres, dan hilangkan budaya judge a book by cover yang masih melekat di otak masyarakat Indonesia.

Gunakan suaramu, pilihlah yang bisa membawa perubahan untuk Indonesia..dengan memilih, kamu punya hak untuk protes akan kemajuan Indonesia :)

20/06/14

Ikhlas, Jauh Lebih Ikhlas

pernah tidak kalian merasa terkejut di saat tidak terduga? ini bukan tentang kecelakaan yang suaranya bisa bikin jantung serasa copot, ini hanya tentang sebuah pernyataan yang tidak pernah kalian sangka akan datang di hari ini.

sejujurnya, tidak terlalu kaget sih dengan pernyataannya karena memang sudah ditebak hanya waktunya saja yang bikin kaget karena begitu tiba-tiba. bukan, ini bukan tentang hubungan saya yang sedang saya jalanin sekarang. justru, hubungan kami baik - baik saja, sangat baik malah. ini hanya seputar mantan kekasih yang saat ini berteman baik dengan saya.

berteman baik walau sebenarnya masih suka menyimpan tanya dalam hati, kenapa dia tidak bisa menyukai saya tanpa terpaksa? hehehe. dan, dia menyukai teman dekat saya saat ini. ya, dia menghubungi saya dan menceritakannya dengan hal yang bikin saya terkejut juga. di luar rumahnya dengan sesuatu yang ingin diberikannya untuk si gadis.

hanya membandingkan, dulu kepada saya, tidak pernah berlaku seperti itu hahaha. namun, lagi-lagi mungkin karena memang saya dan dia adalah teman baik saat ini, tidak ada sesak, hanya tertawa saja mentertawai kebodohan di masa lalu. namun, saya ikhlas..tentu saja saya ikhlas melihatnya sudah bisa lepas dari lalunya yang begitu indah untuk dia lupakan.

semoga berhasil meraih yang memang kamu impikan, itukan doa saya dulu, mendapatkan gadis yang sejiwa denganmu :)

17/06/14

Teruntukmu, Ibu

Kemarin ini, aku sempat melihat lomba menulis di salah satu media cetak dan online ternama yang bertemakan tentang Perempuan Tangguh. Sebenarnya, aku ingin mengikutinya, namun aku lupa untuk mendaftarkan diri hehe. jadi lebih baik, aku tuliskan di sini saja.

Klasik sepertinya bahkan sudah menjadi hal yang umum jika kita menganggap Ibu adalah Perempuan Tangguh yang kita miliki bahkan kita puja. Tapi, aku justru memilih ibuku sebagai perempuan tangguh itu. Kenapa aku menjatuhkan pilihan pada Ibuku? Tidak lain tidak bukan karena aku menyaksikan perjuangannya untuk keluarga ini. Aku melihat kekuatan dan ketegaran yang dia miliki saat ini.

Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sudah pensiun akan pekerjaannya terhadap konveksi jahit. Ibuku bukanlah seorang artis ternama, seorang aktivis atau apapun yang memiliki gelar kehormatan dan mengharumkan nama negaranya di luar sana. Sekali lagi, Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang memiliki empat orang anak dan seorang suami.

Wanita yang akhirnya melahirkanku sebagai anak perempuan satu-satunya ini merupakan seorang pekerja keras. Ia adalah wanita yang selalu ngomel ketika melihat rumah berantakan. Ia adalah wanita yang selalu marah kalau kami anak-anaknya hanya menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Ia adalah wanita yang jarang sekali keluar rumah bahkan untuk ke warung sekali pun.

Lalu kenapa? Dibalik itu semua, Ibuku sudah mengorbankan banyak hal untuk keluarga ini. Ibuku memang wanita pekerja keras, ia murni seorang ibu rumah tangga sekaligus seorang pekerja untuk mencari nafkah. Aku membanggakan dia di dalam lubuk hatiku walaupun terkadang kata-kata kasar suka terlontar dari mulutku. Namun, sungguh, aku mencintainya.

Walau pertentangan kerap terjadi menghampiri hubunganku dengannya tapi itu tidak mengurangi sayangku padanya. Aku bangga padanya, pada kekuatannya sebagai seorang wanita. Ia kuat dibalik itu ia lembut. Ia mengasihi tanpa pamrih. Keringat yang menetes di dahinya adalah hal biasa baginya. Kecantikan adalah hal paling ujung yang ia pikirkan asal kami dapat bahagia, dapat hidup dalam kecukupan.

Saat ini, saat di mana keadaan begitu menyedihkan, Ibuku adalah orang yang paling tegar menghadapinya. Aku hampir tidak melihat ibuku menangis. Bahkan, ia masih menampilkan senyum dan menyuruh kami untuk ikhlas. Kebesaran jiwanya adalah tanda ketangguhannya. Senyumnya adalah rasa sedih yang ia tutupi.

Tiada yang lebih indah di dunia ini selain memilikimu, Ibu.

-dari anak perempuanmu Gloria Safira-

05/05/14

Anganmu Hanya Dalam Kata

Bagaimana kamu bisa berkata kamu peduli kalau kenyataannya semua itu hanyalah angan?
Kamu terlalu banyak berangan tentang kepedulian.
Kamu bahkan terlalu mengumbar kepedulian dalam kata bukan dalam aksi.

Tidak, kamu mewujudkan kepedulian itu dalam aksi.
Tapi, tidak untuk orang di sampingmu.
Aku hanya sebuah bayang, tidak berwujud.
Mungkin inilah sebabnya angan itu tidak pernah terwujud.
Karena kamu lupa kalau ada bayang yang selalu mengikutimu.

18/03/14

Di Seberang Da Vinci

Aku berkelana menaiki kereta dan turunlah diriku di Stasiun Sudirman, sebuah stasiun yang kalau kata salah satu petugas PT KAI adalah stasiun yang paling bersih dan paling nyaman.

Aku ada satu tugas kantor yang menuntunku untuk menuju ke Intilland Tower maka itu aku harus turun di Sudirman ini. Saat aku menaiki Kopaja dengan nomor 19, aku memandang keluar jendela mencari di mana Intilland Tower itu berada.

Mataku memandang dan mencari gedung raksasa dengan tulisan sebuah nama yang baru kudengar dan masih terasa asing. Saat mata ini dengan liarnya bergerak-gerak, aku melihat sebuah gedung dengan interior indah yang bernama Da Vinci. Bukan patung dan namanya yang membuatku tertegun, tapi kenangan kala itu yang membuatku memutar kembali waktu yang tidak pernah kuduga.

Kala itu, aku harus melakukan sebuah liputan yang disuruh oleh media tempatku Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Aku dengan senior kantorku meliput sebuah partai yang diikuti oleh pemilik group media ini di hotel berbintang yang sedang melakukan rapat partai. Waktu itu, acaranya sampai malam. Dan, saat itu aku sedang dekat dengan seorang lelaki dan berprofesi sebagai wartawan juga.

Aku tidak tahu nama daerahnya dan aku baru pertama kali berada di daerah tersebut sehingga membuatku bingung ketika dia menjemputku. Telepon genggamku pun low dan pesan singkat terakhirnya saat itu "Gue di seberang Da Vinci ya, di samping jembatan busway". 

Aku panik karena hp ku mati dan tidak tahu apa itu Da Vinci. Ketika sudah keluar gedung tempat pertemuan kader partai, langit sudah gelap namun jalan raya ramai dengan lalu lalang kendaraan. Aku melihat jembatan busway dan aku berjalan dengan harap-harap cemas "semoga tidak salah."

Aku tersenyum dan jantungku berdegup kencang karena jalan dengan langkah cepat dan melihat dia sedang duduk di atas motor, menungguku. Bertemulah aku dengannya, dengan tersenyum dan berkata maaf akhirnya aku menanyakan keberadaan Da Vinci. Dan dia menjawab," itu dia Da Vinci (sambil menunjuk)."

Aku melihat gedung itu dan kagum karena begitu indah dengan ukiran-ukiran patung di gedungnya. Sungguh cerdas yang membuat gedung ini. Dan, tadi siang adalah kali kedua aku melihat gedung ini lagi setelah setahun lebih berlalu.

Terimakasih gedung Da Vinci, kau membuatku memiliki kenangan dengan melihat interior gedungmu :)

09/03/14

Penggembala Yang Terkungkung

Happy weekend, menikmati Hari Minggu dengan tenang..
Saat ini yang sedang kulakukan adalah membenamkan diriku dalam sebuah novel pinjaman. Sang Alkemis, sebuah novel tentang bocah gembala yang memilih untuk berkelana dalam hidupnya ketimbang menjadi seorang Pastur.

Aku coba membandingkan dengan diriku. Sebenarnya, itulah yang ingin aku lakukan dalam hidupku, berkelana, merasakan ke sana - ke sini, menikmati berbagai pengalaman baru dengan sensasi yang berbeda-beda. Namun, sampai saat ini, aku masih terkungkung oleh rasa takut.

Takutku sering datang ketika aku ingin bersikap dalam mengambil sebuah pilihan. Ketika semua yang dilakukan pastilah ada resikonya, saat itulah nyaliku ciut. Banyak sekali hal yang ingin kulakukan dan belum tersalurkan dengan bijak.

Aku takut diriku habis dimakan waktu dan rasa menyesal yang begitu dalam. Keinginanku, aku takut tidak tersalurkan sampai akhirnya aku hanya menjadi sebuah raga yang habis digerogoti hingga menjadi tulang belulang dalam sebuah ruang sempit. Aku ingin keluar dalam tempurungku, keluar merasakan lagi kebebasan yang lama terenggut.

Apakah Tuhan mau menungguku hingga semua keinginanku terwujud?

22/02/14

Bunga Yang Bersinar, Bunga Matahari

halooo blog..
entah kenapa di hari ini yang hujannya terus mengguyur, aku ingat akan bunga matahari..ya, salah satu bunga yang seringkali aku gambar ketika aku kecil. sebenernya sih, karena emang gak bisa gambar bunga lain hahaha.

bunga matahari, memang bunga yang paling aku suka diantara bunga yang lain..walaupun ada bunga bougenville juga yang menarik perhatianku. oke, fokus, aku hanya ingin membicarakan bunga matahari saja. dingin hari ini, namun membayangkan bunga matahari seperti memberiku sugesti kalau di kamarku hangat dengan kehadiran sinaran mentari.


bunga yang merupakan bunga resmi negara bagian Kansas ini dulunya dibudidayakan oleh orang-orang Indian Amerika Utara hingga akhirnya tersebar ke Amerika Selatan dan menjadi salah satu sumber pangan bagi warga Inka. dulu, biji bunga matahari digunakan untuk campuran roti atau diolah sebagai pengganti kopi serta cokelat.

aku suka bunga matahari karena warnanya yang cerah dan dia sangat setia kepada sang mentari. kuningnya yang indah menurutku sangat sepadan dengan warna rumput hijau..cocok seperti pasangan yang saling melengkapi dengan warnanya masing-masing. bunga matahari tumbuh besar dan gagah, seperti penguasa di antara para bunga hehe.

18/02/14

keledai

halo blog, apa kabar? lama ngga coret-coret dinding lu..
hhmm..so blue..
sebenernya, ngga ngerti juga apa yang gue harapin. seperti berharap pada hal yang abu-abu. sebenernya sih gampang, gue berharap sama hal yang berupa keadilan. tapi, sayangnya nggak mungkin juga gue dapetin keadilan yang pantas. karena sesungguhnya, ngga ada manusia yang bener-bener adil di dunia ini.

apa ya? bingung juga sebenernya kalau memang masih berharap pada hal itu..tapi ya gue emang gitu, ngarepin segala sesuatu sampe akhirnya gue yang bener-bener kecewa sendiri hahaha. keledai sih emang. ya keledai!!!

06/10/13

apakah ini takdir?

aku dengan pakaianku yang kumal. kalian dengan hiasan berlian dan pakaian yang mahal. aku duduk terperangah ketika melihat gaya hidup kalian. apakah aku pantas disebut si kampung? sepertinya, memang pantas si kampung ini menjadi julukanku.

kalian dengan mudahnya mengeluarkan puluhan lembar merah berlukiskan pahlawan Bung Karno dan Bung Hatta. aku lantas melihat isi dompetku yang hanya berisi receh cepe, dua ratus dan gopean, dengan lembar cebanan dua. apakah setinggi itu perbedaan kita? padahal kami sama - sama makan nasi, hanya berbeda lauknya.

ketika aku menerobos panas, polusi dan keterbatasanku untuk mencari materi, mereka berada di ruang ber-AC dengan berbagai makanan yang sedap dipandang mata, minuman segar harga kelas atas, dan tertawa - tertawa centil layaknya penguasa hidup. tembok kedudukan itu jelas terlihat saat ini, saat aku berada di antara mereka.

aku melihat ke dalam khayalku. aku teringat pedagang - pedagang kopi keliling yang aku jumpai di Kota Tua. ketika aku KKL di sebuah media online, aku beberapa kali meliput ke Kota Tua dan akhirnya aku kenal dengan seorang ibu penjual kopi keliling yang akrab dipanggil Mama. Secara penampilan, ia kumal dan bicaranya pun semaunya saja, jauh berbeda dengan ibu -  ibu yang dipenuhi harta ini.

Mama dan ibu - ibu ini sama - sama tertawa riang saat aku temui. Mama tertawa dalam kesederhanaannya, ibu - ibu ini tertawa dalam kemewahannya. 

aku pun membayangkan, bagaimana jika suatu saat harta benda yang dimiliki oleh kaum sosialita ini habis? apakah mereka akan menerima untuk hidup dalam kesederhanaan? atau adegan - adegan opera sabun itu benar adanya dalam kehidupan mereka? harta hilang dan mereka stress hingga akhirnya merasa malu bahkan sampai bunuh diri? ah, ngeri sekali jika terjadi seperti itu.

aku menuliskan ini bukan karena aku membenci kaum sosialita. aku kerap kali berpikir hidup ini sungguh tidak adil. ketika ada mereka yang menghamburkan uang dengan mudahnya, di tempat lain dengan waktu yang sama ada mereka yang mencari uang dengan susahnya. apakah ini keseimbangan hidup?

kenapa ada si kaya dan si miskin? apakah ini takdir?

26/08/13

bisu

sudah tak terekspresikan, lebih lagi sudah tak terucap..
luapan emosi hanya sekedar rasa..
bisu.

25/08/13

tanyaku

maya, tidak nyata, ilusi..mungkin.
bukan juga mengisi, hanyalah kosong.
mungkinkah?

06/08/13

Imajinasi 1826 Hari Nanti

Di waktu yang menunjukkan pukul 23.50 WIB, aku terpikir akan jadi apakah aku lima tahun ke depan? apa yang sudah kulakukan dalam waktu lima tahun itu? Dinginnya malam membawaku bersatu dengan dunia imajinasiku tentang kehidupan lima tahun mendatang. malam, selalu membuatku berimajinasi lebih tinggi dari biasanya.

lima tahun, terdengar waktu yang lama tapi sebenarnya hanya sebentar dari aku menuliskan bayanganku ini. sama seperti aku menginjakkan kakiku di Lenteng Agung, ternyata sekarang sudah tahun keempat aku di sana. aku tidak merasa itu adalah waktu yang lama, walau sebenarnya sudah memakan 1461 hari dalam hidupku. ya, tak terasa begitu cepat waktu berjalan dan tak terasa pula aku membuang waktuku ketika hari - hari itu kulewati. dan, penyesalan yang selalu datang terlambat yang sedang kurasakan, aku akan menambahkan lagi 365 hari untuk hidupku di sana agar cepat keluar ijasahku.

baiklah, kembali ke topik, lima tahun lagi apa yang terjadi pada hidupku? sudahkah aku mencapai apa yang dikatakan sukses? aku harap tidak ada yang sia - sia dengan apa yang kupelajari selama ini. tapi, sukses yang seperti apakah yang akan kualami nanti? apakah aku akan bahagia dengan suksesku nanti? entahlah, tidak ada yang tahu bahkan diriku sekalipun, karena ini hanya imajinasiku semata.

lima tahun nanti, apakah aku sudah menjadi istri seorang belahan jiwaku? sudahkah aku mengucap janji sehidup semati dengan seseorang yang akan menjadi suamiku? atau jangan - jangan aku sudah mempunyai seorang anak? membayangkan ini membuatku senyum - senyum sendiri. entahlah, perasaan ini seperti lucu saja melintas di kepalaku. aku jadi ingin tahu, seperti apa bentuk tubuhku nanti, seperti apa suamiku nanti, bahkan mirip siapakah anakku nanti?

atau jangan - jangan, lima tahun nanti aku sudah mengelilingi sebagian wilayah negara kepulauan ini? ini sungguh menyenangkan, ketika aku sudah menikmati indahnya pesona alam negeriku dan bisa menceritakan serta memamerkannya pada keluargaku. atau aku hanya akan diam di kota tempat aku bekerja nantinya? jangan, jangan sampai aku tidak bisa menikmati keindahan alam yang Tuhan berikan untuk negaraku. aku akan mengusahakan lima tahun nanti sudah banyak tempat yang kutaruh jejak - jejak kakiku untuk aku berkisah dengan mereka.

apakah lima tahun nanti aku sudah menemukan jiwaku dalam berkarir? ya, pekerjaan yang aku impikan, bukan hanya terpaku oleh uang. masa depanku, impianku. atau aku hanya menjadi seorang pekerja yang tidak menikmatinya? tidak, jangan sampai ini terjadi.

kondisi iklim yang sudah berubah - ubah, keadaan alam yang seringkali marah dan pemanasan global, apakah lima tahun lagi aku masih harus mengeluhkannya? atau lima tahun lagi sudah ada kesadaran dari kita manusia untuk menjaga lingkungan sekitar kita? aku sangat berharap lima tahun lagi, aku masih bisa melihat taman kota dan pepohonan tumbuh, bukan gedung - gedung bertingkat.

dan, apakah lima tahun lagi, aku masih dapat merasakan kehidupan ini?

khayalanku tampaknya buruk sekali kali ini. di setiap hal yang membuatku berbinar - binar, si kelam ini kenapa mengekori binarku. mimpi indahku, lima tahun ini harus sudah sebagian terwujud. bukan obsesi, namun aku hanya ingin membuat diriku sendiri bangga dan juga orang - orang di duniaku. semoga saja bukan menjadi aku si omong kosong.

01/08/13

Kami Para Komentator Sok Tahu

Malam minggu (27 Juli 2013), aku, Yafet dan Parul (Fahrul, itu nama aslinya namun kebiasaan orang Indonesia bukan mengubah F menjadi P hehehe) memutuskan untuk melanjutkan nongkrong di sebuah tempat makan lesehan di daerah Pasar Minggu. Awalnya kami nongkrong di Kampus Tercinta setelah menikmati buka bersama UKM yang kami ikuti. Namun, perut ini tidak cukup kenyang setelah menyantap makanan yang disajikan oleh angkatan baru UKM kami. Sekitar pukul 11 malam, melangkahlah kami ke Pasar Minggu.

Aku senang berbincang dan menyampaikan segala ide dan imajinasi serta kesotoyanku pada mereka berdua. Kami berbincang dari A sampai Z bahkan bisa melebihi Z ketika kami sudah mulai berkomentar tentang hal – hal yang ada di sekitar kami. Kami hanyalah komentator amatiran yang melihat segala sesuatunya dari kejadian sehari – hari. Kami bukan pengamat politik, budaya, pendidikan dan segala macamnya, sekali lagi kami hanyalah komentator amatiran yang doyan bicara dan senang menyampaikan segala macam ide di benak kami.

Pada mulanya kami membicarakan FPI yang menjadi trending topic saat itu. Ya, kami bertiga menentang aksi FPI selama ini. FPI itu ibarat bom meledak di tengah – tengah isu yang tengah beredar di masyarakat, ya untuk pengalihan isu seperti yang sudah – sudah. Menurut kami, mereka adalah settingan pemerintah saja, bahkan, mungkin saja mereka juga sebenarnya adalah settingan dari bapak kepala negara sendiri. Itu sih menurut kami dari apa yang kami tonton. Masa iya, FPI dengan lantangnya berani menghina pakpres dan pakpres diam saja?

Bosan kami dengan pemerintahan, dengan perpolitikan bukan berarti kami apatis, namun hanya melihat realita yang ada saja, mereka semakin besar dan semakin menjadi pemegang kekuasaan walaupun sudah tercoreng namanya. Contoh saja Anas, ketika ia menjadi terduga korupsi Hambalang, ia layaknya artis yang mengendalikan media. Ya, semua media terpaku akan berita tentang Anas, dan Anas dengan mudah mempermainkan media untuk mengangkat namanya. Bahkan, koruptor – koruptor di negara kita masih bisa mengumbar senyum ketika mereka diliput oleh media. Ya, mereka seolah bangga menjadi koruptor. Mereka layaknya artis papan atas dan kami semua yang menonton dan membaca berita tentang mereka adalah para fans yang dibodoh – bodohi oleh permainan mereka.

Cukup, cukup. Kami melanjutkan perbincangan ini ke dunia olahraga yaitu bola. Kebetulan, Yafet ini bekerja di salah satu stasiun televisi dan memegang program olahraga. Aku sih tidak mengerti tentang bola, tapi aku senang mendengarkan perbincangan kedua temanku yang menyukai bola ini. Lagi – lagi ini berhubungan dengan uang. Banyak iklan berlomba – lomba untuk tayang dalam acara bola. Bahkan untuk hadir di tengah – tengah pertandingan dengan durasi sekitar 10 detik saja bisa dengan bayaran puluhan bahkan ratusan juta. Aku tercengang mendengarnya. Ini sih gila namanya, menurutku.

Perbincangan beralih, kali ini tentang wadah anak. Masih ingat dengan Idola Cilik? Hmm..menurutku tidak pantas acara itu disebut dengan Idola Cilik. Acara itu hanya memaksa anak kecil menjadi dewasa dengan menyanyikan lagu – lagu orang dewasa. Ketika dinamakan Idola Cilik bukankah kontestan cilik harusnya menyanyikan lagu yang sesuai dengan umur mereka? Kok ini dikasih lagu orang – orang dewasa? Di mana sisi ciliknya? Aku salut dengan vokalis Padi yang menciptakan lagu anak – anak saat ini. Aku sempat menonton ketika ia diwawancarai oleh salah satu program infotainment, ia memutuskan untuk menciptakan lagu anak – anak karena ia juga mempunyai anak dan ia tidak mau anaknya mendnegarkan lagu yang bukan untuk umuran mereka. Waaaahhh saluuuttt!!!

Lalu, kami melanjutkan ke gadget. Semakin lama gadget semakin canggih dengan segala macam aplikasinya. Semakin menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. Namun, mungkin ini bagaimana sikap dari si pengguna gadgetnya saja. Aku pengguna jasa kereta api dan lucu sekali ketika melihat satu gerbong handphone yang mereka gunakan hampir seragam dan sibuk dengan handphonenya masing – masing. Dulu, aku masih menjumpai ramainya pembaca koran di gerbong dan aku suka curi – curi baca koran yang ada di sebelahku. Namun, entah dengan sekarang. Aku jarang melihatnya, mungkinkah karena mayoritas sudah beralih ke online?

Lanjutlah ke lingkungan, aku merasa sangat kesal ketika melihat daerah rumahku membangun lagi tiga suoermarket besar dan pembangunan jalan secara serempak. Aku kesal karena di daerah rumahku hampir tidak kutemui lahan hijau. Macet semakin menjadi dan panas yang luar biasa. Bukankah pemanasan global sudah semakin membahayakan saat ini? Namun kenapa kaum borjuis itu seperti tidak peduli dengan lingkungan yang ada saat ini? Bukankah nantinya anak cucu mereka juga akan merasakan dampak dari perbuatan mereka sendiri? Mereka memang memberikan lapangan pekerjaan bagi sejumlah masyarakat, tapi tetap saja mereka juga menghancurkan bumi yang sudah semakin tidak terkendali keadaan alam dan iklimnya saat ini.

Semakin ke sini perubahan jaman semakin terlihat. Bagus sih sebenarnya, karena kita masih mengikuti perkembangan dunia. Namun, aku merasa kita semakin tidak peduli dengan yang lainnya. Menurutku, hanya menjadi kaum yang mementingkan keuntungan semata.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB dan mengharuskan kami menghentikan obrolan – obrolan sotoy tentang negara yang kami tinggali ini. Menjadi komentator itu sungguh menyenangkan, namun tetap pada akhirnya komentar - komentar itu yang akan  membuat kami menentukan pilihan bagaimana caranya menjadi sebuah lilin untuk membantu negara ini agar tidak menjadi semakin buruk dengan cara kami masing – masing tentunya.

26/07/13

mimpi

setiap manusia pasti memiliki mimpi. mimpi juga bisa menjadi sebuah motivasi hidup seseorang ketika ia berada dalam titik terbawah hidupnya. dengan bermimpi, kurasa seseorang itu dapat merasakan bahagianya hidup di dunia.

aku masih bagian dari dunia ini yang tidak bisa berhenti untuk bermimpi. bahkan mimpi - mimpiku bisa bertambah setiap harinya. entah apa aku ini, mungkin aku sesosok yang haus akan mimpi. tapi entah kenapa, aku merasakan kebebasan ketika mulai bermimpi tentang apa saja yang ingin aku gapai. 

aku mempunyai mimpi untuk berkeliling Indonesia dari kota sampai pelosok - pelosok terdalam. tentu saja, siapa yang tidak ingin mengelilingi negara kepulauan ini. banyak sekali yang bisa dinikmati, selain alamnya yang indah, tentu saja unsur - unsur budaya yang beraneka ragam menjadi salah satu yang ingin kunikmati dan aku pamerkan pada semua orang. kalau begitu, just do it! ya, nanti ketika aku sudah merasa cukup siap untuk berkeliling di negaraku.

jika sudah mengelilingi Indonesia, apalagi yang akan aku lakukan? aku ingin mempunyai sebuah panti asuhan dengan nama "Bhineka Tunggal Ika". kenapa aku menamakannya itu? karena menurutku tidak adil ketika sebuah panti asuhan hanya mengutamakan satu agama atau suku tertentu. mereka yang di dalam adalah mereka yang senasib, kenapa tidak kita biarkan saja mereka bersatu dalam tali persaudaraan tanpa harus pendiskriminasian berdasarkan agama atau suku. tentu saja, aku akan menyiapkan tempat ibadah bagi masing - masing mereka yang menganut agama wajib di Indonesia. kasih sayang itu tidak harus terpaku pada sebuah agama, menurutku. tapi ini akan kulakukan ketika aku mempunyai dana yang lumayan besar.

oke, mimpiku berikutnya, aku ingin mempunyai mobil jeep dan melakukan offroad (hahaha). dari aku kecil, mobil jeep selalu menarik perhatianku dan petualangan semacam offroad yang sering kulihat di televisi menjadi salah satu petualangan yang sangat aku dambakan. mungkin, jeep ini akan kuperlakukan layaknya seorang kekasih yang aku dambakan :p .

Coldplay, sungguh amat sangat sungguh, aku ingin menonton coldplay secara live dan berfoto bareng dengan mereka. band besar ini memang sangat menarik untuk didengarkan lagu - lagunya. dan mereka itu sangat sangat sangat kewreeeeeennn!!!!!!

menjadi seorang wartawati sekaligus fotografer untuk majalah traveling semacam atau boleh juga kalau national geographic mau menerima saya menjadi bagian di dalamnya (buahahak ini memang keinginan yang amat sangat diminati).

dan, memiliki hidup di Jogja dengan keluarga kecilku nantinya, entah kapan tapi semoga saja ini menjadi sebuah keinginan yang tidak muluk. yah di manapun, keluar dari jakarta yang kurasakan sudah suntuk aku di dalamnya. Hijrah, ke mana pun dengan tujuan yang sama :)

masih banyak sekali mimpiku yang lainnya, mimpi yang tanpa batas. mimpi yang membuatku merasa beruntung hidup di dunia, dan mimpi yang akan kugapai (amin) yesyesyes.

24/07/13

hidup = uangkah?

"sekarang harus hemat. apa - apa mahal dan pakai uang,"ujar ibuku satu ketika saat aku akan beranjak pergi untuk berkumpul dengan teman - temanku. rasanya ketika ingin pergi mendapat petuah seperti itu, ingin mengurungkan niatku untuk pergi namun tidak enak dengan teman - temanku.

di perjalanan aku hanya berpikir, ya sekarang apa - apa mahal. semua memerlukan uang. Jika ada yang bertanya apa yang kubutuhkan saat ini, jawabanku hanya satu kata, "uang". aku bukan matrealistis namun aku juga tidak munafik kalau aku hidup memerlukan uang. kupikir, bukan hanya aku yang memerlukan uang, namun semua manusia di bumi sepertinya butuh itu.

dulu, aku sangat membenci perkataan bahagia karena ada uang. bagiku, uang bukan merupakan bagian terpenting dalam hidup. itu pendapatku ketika aku masih menggunakan seragam. tentu saja aku berpikir begitu, karena aku masih mendapatkan hakku dari kedua orang tuaku. namun, sekarang rasanya sulit untuk berpikir seperti dulu lagi.

saat aku duduk di kereta ekonomi, aku sering mendengar celetukan - celetukan pedagang di kereta. "mau kencing aja sekarang bayar," celetuk pedagang - pedagang itu sambil bercanda - canda. mereka benar, hanya ingin mengeluarkan air seni saja kita harus membayar. dulu, masih bayar sekitar gope atau paling mahal seribu di toilet umum. sekarang, harga buang air kecil di toilet umum sudah mencapai dua ribu. dua ribu itu bisa mendapatkan dua bungkus kopi sachetan, aqua gelas 4, cemilan - cemilan kecil (alah, jajan terus saya ini).

apakah uang itu merupakan alat untuk membuat manusia bahagia? sedih sekali kalau memang iya. karena yang kurasakan, uang memberi kenikmatan namun juga bisa membuat kehancuran bagi manusia. ya, manusia bisa saling membunuh hanya demi uang yang tidak banyak (kerap kali aku membaca berita kriminal). apakah uang itu sungguh membutakan mata dan hati? kalau begitu, untuk apa ada uang? kenapa tidak kita kembali ke jaman "barter" diberlakukan. namun, kita juga harus memiliki barang - barang yang banyak dan menguntungkan untuk barter. jadi intinya, HARTA.

tanpa uang mungkin kita tidak bisa makan. ya, beli beras perlu uang, beli sayuran perlu uang, beli bahan - bahan pokok memerlukan uang. belum lagi saat ini, harga bahan pokok melonjak tinggi, semakin menyulitkan masyarakat, termasuk menyulitkan ibuku yang seorang ibu rumah tangga. semakin pusing saja aku memikirkan satu kata itu.

ketika bekerja, salah satu yang menjadi perhitungan adalah gaji. kalau gaji tidak sesuai, maka pekerjaan itu akan ditolak. kalau gaji sesuai, namun membuat sesorang bekerja terus untuk mendapatkan harga yang pantas. seakan hidup = kerja = uang yang banyak. kerja yang dikendalikan oleh uang. kalau begitu, manusia memang tidak akan terlepas dari uang, bukan? uang ini betul - betul bisa membuat manusia menjadi gila, kurasa. bahkan, uang juga bisa menghilangkan mimpi - mimpi sebagian kecil manusia yang ada di bumi ini.

salah satu yang kubenci dari uang adalah, ia seakan bisa mengendalikan hidupku. ya, banyak mungkin yang berpendapat sama, uang bisa menjadi bos dalam hidup seseorang. uang bisa merenggut hobiku untuk jalan - jalan. tanpa punya uang, aku tidak bisa melakukan hobiku itu kecuali kalau aku mendapatkan rejeki jalan - jalan gratis, namun tetap saja untuk printilan - printilan lainnya, aku perlu uang.

seperti saat ini, aku bingung dan memerlukan tempat baru untuk refreshing namun, aku tidak memegang uang, otomatis aku tidak bisa berangkat ke tempat tujuanku. sekali lagi, ini karena uang. apa sih uang ini sebenarnya? mengapa ia sangat berpengaruh bagi hidup dan kebebasan manusia? pasti ia sedang tertawa - tawa saat ini karena menjadi bagian penting dalam kehidupan makhluk hidup dan bisa menyusahkan sebagian manusia yang sedang krisis ekonominya. 

aku membenci uang, namun uang juga sangat aku butuhkan.

21/07/13

waktu, masih setia

ternyata waktu masih ingin aku dan kamu bersama. kamu, entah apa yang terjadi, kamu memperhatikanku lebih dari sebelumnya. kamu, seolah menyesali apa yang sudah kamu lakukan ketika itu. kamu, menjadi lebih baik untuk saat ini. dan, jujur, aku menyukai itu.

aku hanya masih sulit menghapuskan perkataanmu yang sampai saat ini masih terekam di otakku. kata - kata ternyata memang lebih tajam dari pisau. aku sedang berusaha menghapusnya, menghapus sebuah kalimat yang bisa membatasi langkahku untuk terus menaruh rasa pada dirimu.

tapi, tidak. aku akan melanjutkan hubungan ini, denganmu. aku hanya tidak ingin menjadi seseorang yang cepat berlalu untuk menyerah pada sebuah hubungan yang memang kuyakini bisa kubawa melangkah lebih jauh lagi. sampai nanti, saat aku dan kamu memang bersama untuk memutuskan mengakhiri yang tengah kita jalani.