17/06/14

Teruntukmu, Ibu

Kemarin ini, aku sempat melihat lomba menulis di salah satu media cetak dan online ternama yang bertemakan tentang Perempuan Tangguh. Sebenarnya, aku ingin mengikutinya, namun aku lupa untuk mendaftarkan diri hehe. jadi lebih baik, aku tuliskan di sini saja.

Klasik sepertinya bahkan sudah menjadi hal yang umum jika kita menganggap Ibu adalah Perempuan Tangguh yang kita miliki bahkan kita puja. Tapi, aku justru memilih ibuku sebagai perempuan tangguh itu. Kenapa aku menjatuhkan pilihan pada Ibuku? Tidak lain tidak bukan karena aku menyaksikan perjuangannya untuk keluarga ini. Aku melihat kekuatan dan ketegaran yang dia miliki saat ini.

Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sudah pensiun akan pekerjaannya terhadap konveksi jahit. Ibuku bukanlah seorang artis ternama, seorang aktivis atau apapun yang memiliki gelar kehormatan dan mengharumkan nama negaranya di luar sana. Sekali lagi, Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang memiliki empat orang anak dan seorang suami.

Wanita yang akhirnya melahirkanku sebagai anak perempuan satu-satunya ini merupakan seorang pekerja keras. Ia adalah wanita yang selalu ngomel ketika melihat rumah berantakan. Ia adalah wanita yang selalu marah kalau kami anak-anaknya hanya menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Ia adalah wanita yang jarang sekali keluar rumah bahkan untuk ke warung sekali pun.

Lalu kenapa? Dibalik itu semua, Ibuku sudah mengorbankan banyak hal untuk keluarga ini. Ibuku memang wanita pekerja keras, ia murni seorang ibu rumah tangga sekaligus seorang pekerja untuk mencari nafkah. Aku membanggakan dia di dalam lubuk hatiku walaupun terkadang kata-kata kasar suka terlontar dari mulutku. Namun, sungguh, aku mencintainya.

Walau pertentangan kerap terjadi menghampiri hubunganku dengannya tapi itu tidak mengurangi sayangku padanya. Aku bangga padanya, pada kekuatannya sebagai seorang wanita. Ia kuat dibalik itu ia lembut. Ia mengasihi tanpa pamrih. Keringat yang menetes di dahinya adalah hal biasa baginya. Kecantikan adalah hal paling ujung yang ia pikirkan asal kami dapat bahagia, dapat hidup dalam kecukupan.

Saat ini, saat di mana keadaan begitu menyedihkan, Ibuku adalah orang yang paling tegar menghadapinya. Aku hampir tidak melihat ibuku menangis. Bahkan, ia masih menampilkan senyum dan menyuruh kami untuk ikhlas. Kebesaran jiwanya adalah tanda ketangguhannya. Senyumnya adalah rasa sedih yang ia tutupi.

Tiada yang lebih indah di dunia ini selain memilikimu, Ibu.

-dari anak perempuanmu Gloria Safira-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar