Malam minggu (27 Juli 2013), aku, Yafet dan Parul (Fahrul, itu nama aslinya
namun kebiasaan orang Indonesia
bukan mengubah F menjadi P hehehe) memutuskan untuk melanjutkan nongkrong di
sebuah tempat makan lesehan di daerah Pasar Minggu. Awalnya kami nongkrong di
Kampus Tercinta setelah menikmati buka bersama UKM yang kami ikuti. Namun,
perut ini tidak cukup kenyang setelah menyantap makanan yang disajikan oleh
angkatan baru UKM kami. Sekitar pukul 11 malam, melangkahlah kami ke Pasar
Minggu.
Aku senang berbincang dan menyampaikan segala ide dan
imajinasi serta kesotoyanku pada mereka berdua. Kami berbincang dari A sampai Z
bahkan bisa melebihi Z ketika kami sudah mulai berkomentar tentang hal – hal yang
ada di sekitar kami. Kami hanyalah komentator amatiran yang melihat segala
sesuatunya dari kejadian sehari – hari. Kami bukan pengamat politik, budaya,
pendidikan dan segala macamnya, sekali lagi kami hanyalah komentator amatiran
yang doyan bicara dan senang menyampaikan segala macam ide di benak kami.
Pada mulanya kami membicarakan FPI yang menjadi trending
topic saat itu. Ya, kami bertiga menentang aksi FPI selama ini. FPI itu ibarat
bom meledak di tengah – tengah isu yang tengah beredar di masyarakat, ya untuk
pengalihan isu seperti yang sudah – sudah. Menurut kami, mereka adalah
settingan pemerintah saja, bahkan, mungkin saja mereka juga sebenarnya adalah
settingan dari bapak kepala negara sendiri. Itu sih menurut kami dari apa yang
kami tonton. Masa iya, FPI dengan lantangnya berani menghina pakpres dan
pakpres diam saja?
Bosan kami dengan pemerintahan, dengan perpolitikan bukan
berarti kami apatis, namun hanya melihat realita yang ada saja, mereka semakin
besar dan semakin menjadi pemegang kekuasaan walaupun sudah tercoreng namanya. Contoh
saja Anas, ketika ia menjadi terduga korupsi Hambalang, ia layaknya artis yang
mengendalikan media. Ya, semua media terpaku akan berita tentang Anas, dan Anas
dengan mudah mempermainkan media untuk mengangkat namanya. Bahkan, koruptor –
koruptor di negara kita masih bisa mengumbar senyum ketika mereka diliput oleh
media. Ya, mereka seolah bangga menjadi koruptor. Mereka layaknya artis papan
atas dan kami semua yang menonton dan membaca berita tentang mereka adalah para
fans yang dibodoh – bodohi oleh permainan mereka.
Cukup, cukup. Kami melanjutkan perbincangan ini ke dunia
olahraga yaitu bola. Kebetulan, Yafet ini bekerja di salah satu stasiun televisi
dan memegang program olahraga. Aku sih tidak mengerti tentang bola, tapi aku
senang mendengarkan perbincangan kedua temanku yang menyukai bola ini. Lagi –
lagi ini berhubungan dengan uang. Banyak iklan berlomba – lomba untuk tayang
dalam acara bola. Bahkan untuk hadir di tengah – tengah pertandingan dengan
durasi sekitar 10 detik saja bisa dengan bayaran puluhan bahkan ratusan juta. Aku
tercengang mendengarnya. Ini sih gila namanya, menurutku.
Perbincangan beralih, kali ini tentang wadah anak. Masih ingat
dengan Idola Cilik? Hmm..menurutku tidak pantas acara itu disebut dengan Idola
Cilik. Acara itu hanya memaksa anak kecil menjadi dewasa dengan menyanyikan
lagu – lagu orang dewasa. Ketika dinamakan Idola Cilik bukankah kontestan cilik
harusnya menyanyikan lagu yang sesuai dengan umur mereka? Kok ini dikasih lagu
orang – orang dewasa? Di mana sisi ciliknya? Aku salut dengan vokalis Padi yang
menciptakan lagu anak – anak saat ini. Aku sempat menonton ketika ia
diwawancarai oleh salah satu program infotainment, ia memutuskan untuk
menciptakan lagu anak – anak karena ia juga mempunyai anak dan ia tidak mau
anaknya mendnegarkan lagu yang bukan untuk umuran mereka. Waaaahhh saluuuttt!!!
Lalu, kami melanjutkan ke gadget. Semakin lama gadget
semakin canggih dengan segala macam aplikasinya. Semakin menjauhkan yang dekat,
mendekatkan yang jauh. Namun, mungkin ini bagaimana sikap dari si pengguna
gadgetnya saja. Aku pengguna jasa kereta api dan lucu sekali ketika melihat
satu gerbong handphone yang mereka gunakan hampir seragam dan sibuk dengan
handphonenya masing – masing. Dulu, aku masih menjumpai ramainya pembaca koran
di gerbong dan aku suka curi – curi baca koran yang ada di sebelahku. Namun,
entah dengan sekarang. Aku jarang melihatnya, mungkinkah karena mayoritas sudah
beralih ke online?
Lanjutlah ke lingkungan, aku merasa sangat kesal ketika
melihat daerah rumahku membangun lagi tiga suoermarket besar dan pembangunan jalan
secara serempak. Aku kesal karena di daerah rumahku hampir tidak kutemui lahan
hijau. Macet semakin menjadi dan panas yang luar biasa. Bukankah pemanasan
global sudah semakin membahayakan saat ini? Namun kenapa kaum borjuis itu
seperti tidak peduli dengan lingkungan yang ada saat ini? Bukankah nantinya
anak cucu mereka juga akan merasakan dampak dari perbuatan mereka sendiri? Mereka
memang memberikan lapangan pekerjaan bagi sejumlah masyarakat, tapi tetap saja
mereka juga menghancurkan bumi yang sudah semakin tidak terkendali keadaan alam
dan iklimnya saat ini.
Semakin ke sini perubahan jaman semakin terlihat. Bagus sih
sebenarnya, karena kita masih mengikuti perkembangan dunia. Namun, aku merasa
kita semakin tidak peduli dengan yang lainnya. Menurutku, hanya menjadi kaum
yang mementingkan keuntungan semata.
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB dan mengharuskan
kami menghentikan obrolan – obrolan sotoy tentang negara yang kami tinggali
ini. Menjadi komentator itu sungguh menyenangkan, namun tetap pada akhirnya
komentar - komentar itu yang akan membuat kami menentukan pilihan bagaimana
caranya menjadi sebuah lilin untuk membantu negara ini agar tidak menjadi
semakin buruk dengan cara kami masing – masing tentunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar