01/08/13

Kami Para Komentator Sok Tahu

Malam minggu (27 Juli 2013), aku, Yafet dan Parul (Fahrul, itu nama aslinya namun kebiasaan orang Indonesia bukan mengubah F menjadi P hehehe) memutuskan untuk melanjutkan nongkrong di sebuah tempat makan lesehan di daerah Pasar Minggu. Awalnya kami nongkrong di Kampus Tercinta setelah menikmati buka bersama UKM yang kami ikuti. Namun, perut ini tidak cukup kenyang setelah menyantap makanan yang disajikan oleh angkatan baru UKM kami. Sekitar pukul 11 malam, melangkahlah kami ke Pasar Minggu.

Aku senang berbincang dan menyampaikan segala ide dan imajinasi serta kesotoyanku pada mereka berdua. Kami berbincang dari A sampai Z bahkan bisa melebihi Z ketika kami sudah mulai berkomentar tentang hal – hal yang ada di sekitar kami. Kami hanyalah komentator amatiran yang melihat segala sesuatunya dari kejadian sehari – hari. Kami bukan pengamat politik, budaya, pendidikan dan segala macamnya, sekali lagi kami hanyalah komentator amatiran yang doyan bicara dan senang menyampaikan segala macam ide di benak kami.

Pada mulanya kami membicarakan FPI yang menjadi trending topic saat itu. Ya, kami bertiga menentang aksi FPI selama ini. FPI itu ibarat bom meledak di tengah – tengah isu yang tengah beredar di masyarakat, ya untuk pengalihan isu seperti yang sudah – sudah. Menurut kami, mereka adalah settingan pemerintah saja, bahkan, mungkin saja mereka juga sebenarnya adalah settingan dari bapak kepala negara sendiri. Itu sih menurut kami dari apa yang kami tonton. Masa iya, FPI dengan lantangnya berani menghina pakpres dan pakpres diam saja?

Bosan kami dengan pemerintahan, dengan perpolitikan bukan berarti kami apatis, namun hanya melihat realita yang ada saja, mereka semakin besar dan semakin menjadi pemegang kekuasaan walaupun sudah tercoreng namanya. Contoh saja Anas, ketika ia menjadi terduga korupsi Hambalang, ia layaknya artis yang mengendalikan media. Ya, semua media terpaku akan berita tentang Anas, dan Anas dengan mudah mempermainkan media untuk mengangkat namanya. Bahkan, koruptor – koruptor di negara kita masih bisa mengumbar senyum ketika mereka diliput oleh media. Ya, mereka seolah bangga menjadi koruptor. Mereka layaknya artis papan atas dan kami semua yang menonton dan membaca berita tentang mereka adalah para fans yang dibodoh – bodohi oleh permainan mereka.

Cukup, cukup. Kami melanjutkan perbincangan ini ke dunia olahraga yaitu bola. Kebetulan, Yafet ini bekerja di salah satu stasiun televisi dan memegang program olahraga. Aku sih tidak mengerti tentang bola, tapi aku senang mendengarkan perbincangan kedua temanku yang menyukai bola ini. Lagi – lagi ini berhubungan dengan uang. Banyak iklan berlomba – lomba untuk tayang dalam acara bola. Bahkan untuk hadir di tengah – tengah pertandingan dengan durasi sekitar 10 detik saja bisa dengan bayaran puluhan bahkan ratusan juta. Aku tercengang mendengarnya. Ini sih gila namanya, menurutku.

Perbincangan beralih, kali ini tentang wadah anak. Masih ingat dengan Idola Cilik? Hmm..menurutku tidak pantas acara itu disebut dengan Idola Cilik. Acara itu hanya memaksa anak kecil menjadi dewasa dengan menyanyikan lagu – lagu orang dewasa. Ketika dinamakan Idola Cilik bukankah kontestan cilik harusnya menyanyikan lagu yang sesuai dengan umur mereka? Kok ini dikasih lagu orang – orang dewasa? Di mana sisi ciliknya? Aku salut dengan vokalis Padi yang menciptakan lagu anak – anak saat ini. Aku sempat menonton ketika ia diwawancarai oleh salah satu program infotainment, ia memutuskan untuk menciptakan lagu anak – anak karena ia juga mempunyai anak dan ia tidak mau anaknya mendnegarkan lagu yang bukan untuk umuran mereka. Waaaahhh saluuuttt!!!

Lalu, kami melanjutkan ke gadget. Semakin lama gadget semakin canggih dengan segala macam aplikasinya. Semakin menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. Namun, mungkin ini bagaimana sikap dari si pengguna gadgetnya saja. Aku pengguna jasa kereta api dan lucu sekali ketika melihat satu gerbong handphone yang mereka gunakan hampir seragam dan sibuk dengan handphonenya masing – masing. Dulu, aku masih menjumpai ramainya pembaca koran di gerbong dan aku suka curi – curi baca koran yang ada di sebelahku. Namun, entah dengan sekarang. Aku jarang melihatnya, mungkinkah karena mayoritas sudah beralih ke online?

Lanjutlah ke lingkungan, aku merasa sangat kesal ketika melihat daerah rumahku membangun lagi tiga suoermarket besar dan pembangunan jalan secara serempak. Aku kesal karena di daerah rumahku hampir tidak kutemui lahan hijau. Macet semakin menjadi dan panas yang luar biasa. Bukankah pemanasan global sudah semakin membahayakan saat ini? Namun kenapa kaum borjuis itu seperti tidak peduli dengan lingkungan yang ada saat ini? Bukankah nantinya anak cucu mereka juga akan merasakan dampak dari perbuatan mereka sendiri? Mereka memang memberikan lapangan pekerjaan bagi sejumlah masyarakat, tapi tetap saja mereka juga menghancurkan bumi yang sudah semakin tidak terkendali keadaan alam dan iklimnya saat ini.

Semakin ke sini perubahan jaman semakin terlihat. Bagus sih sebenarnya, karena kita masih mengikuti perkembangan dunia. Namun, aku merasa kita semakin tidak peduli dengan yang lainnya. Menurutku, hanya menjadi kaum yang mementingkan keuntungan semata.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB dan mengharuskan kami menghentikan obrolan – obrolan sotoy tentang negara yang kami tinggali ini. Menjadi komentator itu sungguh menyenangkan, namun tetap pada akhirnya komentar - komentar itu yang akan  membuat kami menentukan pilihan bagaimana caranya menjadi sebuah lilin untuk membantu negara ini agar tidak menjadi semakin buruk dengan cara kami masing – masing tentunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar