aku dengan pakaianku yang kumal. kalian dengan hiasan berlian dan pakaian yang mahal. aku duduk terperangah ketika melihat gaya hidup kalian. apakah aku pantas disebut si kampung? sepertinya, memang pantas si kampung ini menjadi julukanku.
kalian dengan mudahnya mengeluarkan puluhan lembar merah berlukiskan pahlawan Bung Karno dan Bung Hatta. aku lantas melihat isi dompetku yang hanya berisi receh cepe, dua ratus dan gopean, dengan lembar cebanan dua. apakah setinggi itu perbedaan kita? padahal kami sama - sama makan nasi, hanya berbeda lauknya.
ketika aku menerobos panas, polusi dan keterbatasanku untuk mencari materi, mereka berada di ruang ber-AC dengan berbagai makanan yang sedap dipandang mata, minuman segar harga kelas atas, dan tertawa - tertawa centil layaknya penguasa hidup. tembok kedudukan itu jelas terlihat saat ini, saat aku berada di antara mereka.
aku melihat ke dalam khayalku. aku teringat pedagang - pedagang kopi keliling yang aku jumpai di Kota Tua. ketika aku KKL di sebuah media online, aku beberapa kali meliput ke Kota Tua dan akhirnya aku kenal dengan seorang ibu penjual kopi keliling yang akrab dipanggil Mama. Secara penampilan, ia kumal dan bicaranya pun semaunya saja, jauh berbeda dengan ibu - ibu yang dipenuhi harta ini.
Mama dan ibu - ibu ini sama - sama tertawa riang saat aku temui. Mama tertawa dalam kesederhanaannya, ibu - ibu ini tertawa dalam kemewahannya.
aku pun membayangkan, bagaimana jika suatu saat harta benda yang dimiliki oleh kaum sosialita ini habis? apakah mereka akan menerima untuk hidup dalam kesederhanaan? atau adegan - adegan opera sabun itu benar adanya dalam kehidupan mereka? harta hilang dan mereka stress hingga akhirnya merasa malu bahkan sampai bunuh diri? ah, ngeri sekali jika terjadi seperti itu.
aku menuliskan ini bukan karena aku membenci kaum sosialita. aku kerap kali berpikir hidup ini sungguh tidak adil. ketika ada mereka yang menghamburkan uang dengan mudahnya, di tempat lain dengan waktu yang sama ada mereka yang mencari uang dengan susahnya. apakah ini keseimbangan hidup?
kenapa ada si kaya dan si miskin? apakah ini takdir?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar