sudah tak terekspresikan, lebih lagi sudah tak terucap..
luapan emosi hanya sekedar rasa..
bisu.
26/08/13
25/08/13
06/08/13
Imajinasi 1826 Hari Nanti
Di waktu yang menunjukkan pukul 23.50 WIB, aku terpikir akan jadi apakah aku lima tahun ke depan? apa yang sudah kulakukan dalam waktu lima tahun itu? Dinginnya malam membawaku bersatu dengan dunia imajinasiku tentang kehidupan lima tahun mendatang. malam, selalu membuatku berimajinasi lebih tinggi dari biasanya.
lima tahun, terdengar waktu yang lama tapi sebenarnya hanya sebentar dari aku menuliskan bayanganku ini. sama seperti aku menginjakkan kakiku di Lenteng Agung, ternyata sekarang sudah tahun keempat aku di sana. aku tidak merasa itu adalah waktu yang lama, walau sebenarnya sudah memakan 1461 hari dalam hidupku. ya, tak terasa begitu cepat waktu berjalan dan tak terasa pula aku membuang waktuku ketika hari - hari itu kulewati. dan, penyesalan yang selalu datang terlambat yang sedang kurasakan, aku akan menambahkan lagi 365 hari untuk hidupku di sana agar cepat keluar ijasahku.
baiklah, kembali ke topik, lima tahun lagi apa yang terjadi pada hidupku? sudahkah aku mencapai apa yang dikatakan sukses? aku harap tidak ada yang sia - sia dengan apa yang kupelajari selama ini. tapi, sukses yang seperti apakah yang akan kualami nanti? apakah aku akan bahagia dengan suksesku nanti? entahlah, tidak ada yang tahu bahkan diriku sekalipun, karena ini hanya imajinasiku semata.
lima tahun nanti, apakah aku sudah menjadi istri seorang belahan jiwaku? sudahkah aku mengucap janji sehidup semati dengan seseorang yang akan menjadi suamiku? atau jangan - jangan aku sudah mempunyai seorang anak? membayangkan ini membuatku senyum - senyum sendiri. entahlah, perasaan ini seperti lucu saja melintas di kepalaku. aku jadi ingin tahu, seperti apa bentuk tubuhku nanti, seperti apa suamiku nanti, bahkan mirip siapakah anakku nanti?
atau jangan - jangan, lima tahun nanti aku sudah mengelilingi sebagian wilayah negara kepulauan ini? ini sungguh menyenangkan, ketika aku sudah menikmati indahnya pesona alam negeriku dan bisa menceritakan serta memamerkannya pada keluargaku. atau aku hanya akan diam di kota tempat aku bekerja nantinya? jangan, jangan sampai aku tidak bisa menikmati keindahan alam yang Tuhan berikan untuk negaraku. aku akan mengusahakan lima tahun nanti sudah banyak tempat yang kutaruh jejak - jejak kakiku untuk aku berkisah dengan mereka.
apakah lima tahun nanti aku sudah menemukan jiwaku dalam berkarir? ya, pekerjaan yang aku impikan, bukan hanya terpaku oleh uang. masa depanku, impianku. atau aku hanya menjadi seorang pekerja yang tidak menikmatinya? tidak, jangan sampai ini terjadi.
kondisi iklim yang sudah berubah - ubah, keadaan alam yang seringkali marah dan pemanasan global, apakah lima tahun lagi aku masih harus mengeluhkannya? atau lima tahun lagi sudah ada kesadaran dari kita manusia untuk menjaga lingkungan sekitar kita? aku sangat berharap lima tahun lagi, aku masih bisa melihat taman kota dan pepohonan tumbuh, bukan gedung - gedung bertingkat.
dan, apakah lima tahun lagi, aku masih dapat merasakan kehidupan ini?
khayalanku tampaknya buruk sekali kali ini. di setiap hal yang membuatku berbinar - binar, si kelam ini kenapa mengekori binarku. mimpi indahku, lima tahun ini harus sudah sebagian terwujud. bukan obsesi, namun aku hanya ingin membuat diriku sendiri bangga dan juga orang - orang di duniaku. semoga saja bukan menjadi aku si omong kosong.
lima tahun, terdengar waktu yang lama tapi sebenarnya hanya sebentar dari aku menuliskan bayanganku ini. sama seperti aku menginjakkan kakiku di Lenteng Agung, ternyata sekarang sudah tahun keempat aku di sana. aku tidak merasa itu adalah waktu yang lama, walau sebenarnya sudah memakan 1461 hari dalam hidupku. ya, tak terasa begitu cepat waktu berjalan dan tak terasa pula aku membuang waktuku ketika hari - hari itu kulewati. dan, penyesalan yang selalu datang terlambat yang sedang kurasakan, aku akan menambahkan lagi 365 hari untuk hidupku di sana agar cepat keluar ijasahku.
baiklah, kembali ke topik, lima tahun lagi apa yang terjadi pada hidupku? sudahkah aku mencapai apa yang dikatakan sukses? aku harap tidak ada yang sia - sia dengan apa yang kupelajari selama ini. tapi, sukses yang seperti apakah yang akan kualami nanti? apakah aku akan bahagia dengan suksesku nanti? entahlah, tidak ada yang tahu bahkan diriku sekalipun, karena ini hanya imajinasiku semata.
lima tahun nanti, apakah aku sudah menjadi istri seorang belahan jiwaku? sudahkah aku mengucap janji sehidup semati dengan seseorang yang akan menjadi suamiku? atau jangan - jangan aku sudah mempunyai seorang anak? membayangkan ini membuatku senyum - senyum sendiri. entahlah, perasaan ini seperti lucu saja melintas di kepalaku. aku jadi ingin tahu, seperti apa bentuk tubuhku nanti, seperti apa suamiku nanti, bahkan mirip siapakah anakku nanti?
atau jangan - jangan, lima tahun nanti aku sudah mengelilingi sebagian wilayah negara kepulauan ini? ini sungguh menyenangkan, ketika aku sudah menikmati indahnya pesona alam negeriku dan bisa menceritakan serta memamerkannya pada keluargaku. atau aku hanya akan diam di kota tempat aku bekerja nantinya? jangan, jangan sampai aku tidak bisa menikmati keindahan alam yang Tuhan berikan untuk negaraku. aku akan mengusahakan lima tahun nanti sudah banyak tempat yang kutaruh jejak - jejak kakiku untuk aku berkisah dengan mereka.
apakah lima tahun nanti aku sudah menemukan jiwaku dalam berkarir? ya, pekerjaan yang aku impikan, bukan hanya terpaku oleh uang. masa depanku, impianku. atau aku hanya menjadi seorang pekerja yang tidak menikmatinya? tidak, jangan sampai ini terjadi.
kondisi iklim yang sudah berubah - ubah, keadaan alam yang seringkali marah dan pemanasan global, apakah lima tahun lagi aku masih harus mengeluhkannya? atau lima tahun lagi sudah ada kesadaran dari kita manusia untuk menjaga lingkungan sekitar kita? aku sangat berharap lima tahun lagi, aku masih bisa melihat taman kota dan pepohonan tumbuh, bukan gedung - gedung bertingkat.
dan, apakah lima tahun lagi, aku masih dapat merasakan kehidupan ini?
khayalanku tampaknya buruk sekali kali ini. di setiap hal yang membuatku berbinar - binar, si kelam ini kenapa mengekori binarku. mimpi indahku, lima tahun ini harus sudah sebagian terwujud. bukan obsesi, namun aku hanya ingin membuat diriku sendiri bangga dan juga orang - orang di duniaku. semoga saja bukan menjadi aku si omong kosong.
01/08/13
Kami Para Komentator Sok Tahu
Malam minggu (27 Juli 2013), aku, Yafet dan Parul (Fahrul, itu nama aslinya
namun kebiasaan orang Indonesia
bukan mengubah F menjadi P hehehe) memutuskan untuk melanjutkan nongkrong di
sebuah tempat makan lesehan di daerah Pasar Minggu. Awalnya kami nongkrong di
Kampus Tercinta setelah menikmati buka bersama UKM yang kami ikuti. Namun,
perut ini tidak cukup kenyang setelah menyantap makanan yang disajikan oleh
angkatan baru UKM kami. Sekitar pukul 11 malam, melangkahlah kami ke Pasar
Minggu.
Aku senang berbincang dan menyampaikan segala ide dan
imajinasi serta kesotoyanku pada mereka berdua. Kami berbincang dari A sampai Z
bahkan bisa melebihi Z ketika kami sudah mulai berkomentar tentang hal – hal yang
ada di sekitar kami. Kami hanyalah komentator amatiran yang melihat segala
sesuatunya dari kejadian sehari – hari. Kami bukan pengamat politik, budaya,
pendidikan dan segala macamnya, sekali lagi kami hanyalah komentator amatiran
yang doyan bicara dan senang menyampaikan segala macam ide di benak kami.
Pada mulanya kami membicarakan FPI yang menjadi trending
topic saat itu. Ya, kami bertiga menentang aksi FPI selama ini. FPI itu ibarat
bom meledak di tengah – tengah isu yang tengah beredar di masyarakat, ya untuk
pengalihan isu seperti yang sudah – sudah. Menurut kami, mereka adalah
settingan pemerintah saja, bahkan, mungkin saja mereka juga sebenarnya adalah
settingan dari bapak kepala negara sendiri. Itu sih menurut kami dari apa yang
kami tonton. Masa iya, FPI dengan lantangnya berani menghina pakpres dan
pakpres diam saja?
Bosan kami dengan pemerintahan, dengan perpolitikan bukan
berarti kami apatis, namun hanya melihat realita yang ada saja, mereka semakin
besar dan semakin menjadi pemegang kekuasaan walaupun sudah tercoreng namanya. Contoh
saja Anas, ketika ia menjadi terduga korupsi Hambalang, ia layaknya artis yang
mengendalikan media. Ya, semua media terpaku akan berita tentang Anas, dan Anas
dengan mudah mempermainkan media untuk mengangkat namanya. Bahkan, koruptor –
koruptor di negara kita masih bisa mengumbar senyum ketika mereka diliput oleh
media. Ya, mereka seolah bangga menjadi koruptor. Mereka layaknya artis papan
atas dan kami semua yang menonton dan membaca berita tentang mereka adalah para
fans yang dibodoh – bodohi oleh permainan mereka.
Cukup, cukup. Kami melanjutkan perbincangan ini ke dunia
olahraga yaitu bola. Kebetulan, Yafet ini bekerja di salah satu stasiun televisi
dan memegang program olahraga. Aku sih tidak mengerti tentang bola, tapi aku
senang mendengarkan perbincangan kedua temanku yang menyukai bola ini. Lagi –
lagi ini berhubungan dengan uang. Banyak iklan berlomba – lomba untuk tayang
dalam acara bola. Bahkan untuk hadir di tengah – tengah pertandingan dengan
durasi sekitar 10 detik saja bisa dengan bayaran puluhan bahkan ratusan juta. Aku
tercengang mendengarnya. Ini sih gila namanya, menurutku.
Perbincangan beralih, kali ini tentang wadah anak. Masih ingat
dengan Idola Cilik? Hmm..menurutku tidak pantas acara itu disebut dengan Idola
Cilik. Acara itu hanya memaksa anak kecil menjadi dewasa dengan menyanyikan
lagu – lagu orang dewasa. Ketika dinamakan Idola Cilik bukankah kontestan cilik
harusnya menyanyikan lagu yang sesuai dengan umur mereka? Kok ini dikasih lagu
orang – orang dewasa? Di mana sisi ciliknya? Aku salut dengan vokalis Padi yang
menciptakan lagu anak – anak saat ini. Aku sempat menonton ketika ia
diwawancarai oleh salah satu program infotainment, ia memutuskan untuk
menciptakan lagu anak – anak karena ia juga mempunyai anak dan ia tidak mau
anaknya mendnegarkan lagu yang bukan untuk umuran mereka. Waaaahhh saluuuttt!!!
Lalu, kami melanjutkan ke gadget. Semakin lama gadget
semakin canggih dengan segala macam aplikasinya. Semakin menjauhkan yang dekat,
mendekatkan yang jauh. Namun, mungkin ini bagaimana sikap dari si pengguna
gadgetnya saja. Aku pengguna jasa kereta api dan lucu sekali ketika melihat
satu gerbong handphone yang mereka gunakan hampir seragam dan sibuk dengan
handphonenya masing – masing. Dulu, aku masih menjumpai ramainya pembaca koran
di gerbong dan aku suka curi – curi baca koran yang ada di sebelahku. Namun,
entah dengan sekarang. Aku jarang melihatnya, mungkinkah karena mayoritas sudah
beralih ke online?
Lanjutlah ke lingkungan, aku merasa sangat kesal ketika
melihat daerah rumahku membangun lagi tiga suoermarket besar dan pembangunan jalan
secara serempak. Aku kesal karena di daerah rumahku hampir tidak kutemui lahan
hijau. Macet semakin menjadi dan panas yang luar biasa. Bukankah pemanasan
global sudah semakin membahayakan saat ini? Namun kenapa kaum borjuis itu
seperti tidak peduli dengan lingkungan yang ada saat ini? Bukankah nantinya
anak cucu mereka juga akan merasakan dampak dari perbuatan mereka sendiri? Mereka
memang memberikan lapangan pekerjaan bagi sejumlah masyarakat, tapi tetap saja
mereka juga menghancurkan bumi yang sudah semakin tidak terkendali keadaan alam
dan iklimnya saat ini.
Semakin ke sini perubahan jaman semakin terlihat. Bagus sih
sebenarnya, karena kita masih mengikuti perkembangan dunia. Namun, aku merasa
kita semakin tidak peduli dengan yang lainnya. Menurutku, hanya menjadi kaum
yang mementingkan keuntungan semata.
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB dan mengharuskan
kami menghentikan obrolan – obrolan sotoy tentang negara yang kami tinggali
ini. Menjadi komentator itu sungguh menyenangkan, namun tetap pada akhirnya
komentar - komentar itu yang akan membuat kami menentukan pilihan bagaimana
caranya menjadi sebuah lilin untuk membantu negara ini agar tidak menjadi
semakin buruk dengan cara kami masing – masing tentunya.
Langganan:
Komentar (Atom)