18/04/17

Merindukan Tuan Yang Tidak Pernah Kembali

Subuh itu (18/4/2015), tidak sengaja aku terbangun dari mimpiku karena mendengar suara batuk yang begitu kencangnya. Batuk itu berasal dari ayahku. Setengah terduduk di kamar rumah sakit Cisarua, Puncak, tempat ia dirawat, aku melihat kedua kakak laki-lakiku sedang membantunya untuk membuang dahak.

“Sudah ada koko dan ade,” ucapku dalam hati.

Tak berapa lama, aku pun berbaring dan kembali terlelap.

Pagi hari pukul 06.30 WIB, ibu membangunkanku seperti biasa. Sudah berhari-hari kami sekeluarga menginap di kamar itu. Aku melihat wajah ayahku, dia sedang tidur.

Suster dating untuk mengecek. Dia pun memeriksa alat bantu buang air kecil yang dipasangkan pada ayahku sehari sebelumnya. Dia juga memindahkan letak infus ke kaki kanan ayahku. Infus itu dipindahkan karena tangannya sudah tidak memiliki tempat lagi untuk diinfus.

Seperti biasa, aku menuju warung-warung untuk mencari sarapan. Kembali ke kamar, duduk dan menonton tv sambil sesekali menoleh ke arah ayahku. Dia sedang tidur.

Aku memutuskan untuk mandi. Seusai mandi, ibuku mengajakku bicara soal pekerjaan yang baru saja aku dapatkan. Dia memintaku untuk menunda jadwal pekerjaanku. Aku bersikeras tidak mau karena lapangan pekerjaan sulit untuk didapatkan oleh mahasiswa yang kuliahnya lama sepertiku.

Usai berdebat, aku terdiam sambil melihat jendela dan menoleh ke ayahku. Dia tidur lama sekali, begitulah yang ada dalam benakku. Saat melihat ke luar jendela, aku melihat kedatangan sepupuku di halaman parkir rumah sakit. Aku pun memberitahu ibuku kalau mereka datang.

Ayahku masih terlelap. Sepupuku yang datang lantas menanyakan kondisi ayahku. Pikir kami, dia terlelap karena efek dari obat yang diminumnya pagi tadi. Lambat laun aku melihat perubahan warna di wajahnya. Pucat.

Nafasnya semakin berat. Bahkan, aku dapat menghitung berapa kali dia menarik dan membuang nafasnya. Semakin lama semakin melambat. Jantungku berdegup kencang, khayalku tidak ingin ini terjadi.

Dokter kami panggil. Seluruh keluarga yang sedang menunggunya diminta untuk keluar dari kamar. Pukul 10.00 WIB, dokter menyalami kakak pertamaku dan mengucapkan turut berbela sungkawa atas apa yang menimpa ayahku.

Tak kuasa air mata jatuh. Tak kuasa kami harus menerima kepergian dia. Ibuku histeris. Aku pun terdiam. Mengapa harus berakhir seperti ini?

Aku menghampiri ayahku, memegang wajah dan menciumnya. Air mataku jatuh. Tidak sempat aku meminta maaf pada ayahku karena pertengkaran yang sering kami lalui. Tidak akan ada lagi yang memarahiku kala aku lupa untuk pulang ke rumah.

Tidak akan ada sebutan “Neng” lagi padaku. Dan tidak akan ada lagi yang menyayangi dan memanjaku seperti dia.

Saat itu, aku hanya bias terbaring di sampingnya dan memeluk jazadnya. “Pah, maafin fira ya,” ujarku berbisik di telinga kirinya.
“Pak Buce, bangun yuk pak, sarapan dulu,” tuturku mengikuti gaya suster rumah sakit untuk menggodanya.

Kaku, tak sedikitpun dia meresponku. Hanya tertidur dan akan terus tertidur untuk selamanya.
Dengan segera kami membereskan kamar rumah sakit dari semua barang selama menginap. Dengan bantuan sepuppuku, barang kami titipkan pada mereka. Ibuku meminta bantuan pada kakak pertamanya untuk memesan kamar di rumah duka Sinar Kasih.

Satu persatu keluarga dari pihak ayahku dan ibuku pun menerima kabar tersebut. Mobil jenazah tiba di halaman parkir. Aku, ibuku serta kakak keduaku ikut di mobil tersebut. Air mata terus menetes dari mataku selama satu jam perjalanan tersebut dilakukan. Berada di dalam mobil itu pun tak pernah terbayangkan olehku.

Keluarga ibuku sudah berkumpul di rumah duka. Ayahku dibaringkan di sebuah tempat tidur untuk dimandikan. Kakak pertama dan ketigaku mengambil jas dan kemeja serta celana bahan untuk digunakan oleh ayahku. Sepasang kaos kaki dan sepatu baru pun turut dipasangkan pada ayahku.
Salah satu hal yang paling kusukai dari ayahku adalah tato di lengan kanannya. Tato itu memang hanya bergambar jangkar, tetapi bagiku itu sangat keren.  Ayahku yang menjadi inspirasiku untuk bernazar saat masih di bangku sekolah menengah pertama.

“Kalau sudah sukses dan mandiri, aku akan membuat tato di tubuhku.” Itulah nazar yang pernah kuucapkan.

Hari ini, tepat dua tahun ayahku pergi ke surga. Aku merindukannya. Dulu, aku sangat berharap dia menggandeng tanganku dan berjalan di dalam gereja saat sakramen perkawinanku. Namun, kenyataan berkata lain. Ayahku belum sempat menggandeng tanganku di dalam Gereja Katedral Bogor untuk saat itu.

Bahagia di surga, pah. I love you so much.


Dari, anak bungsumu yang suka minta disuapin apapun makanan yang sedang kau makan J