21/07/14

Sekuat Baja Tidaklah Cukup

Menjadi kuat dan tegar memang haruslah terjadi pada setiap wanita. Wanita itu memang seharusnya memiliki mental yang kuat dan jiwa yang tegar. Aku bukan ingin membicarakan feminisme, aku hanya ingin agar semua wanita tidak terus dianggap lemah oleh sesamanya dan kaum adam.

Bukan karena pernah patah hati, bahkan sampai sekarang pun hati dan jiwa ini masih sering terluka. Aku bicara begini karena aku yang masih sering menangis hingga dadaku sungguh terasa sesak dan nafasku berat untuk kutarik. Aku hanya tidak ingin setiap wanita yang bahagia akhirnya mengalami hal menyakitkan.

Memang, menangis bukan berarti si empunya air mata itu lemah, namun terasa begitu letih ketika air mata menetes dengan luka hati yang begitu menusuk.Dan pasti akan ada uraian kata "cengeng sekali kamu." Ya, sudah bisa dipastikan dan terus berulang.

Apapun itu, sekecil apapun kesalahan itu yang bahkan bukanlah kesalahan dan hanya kesombongan ego yang tidak lepas dari manusianya, akan langsung menaikkan amarah pada yang merasa. Seberapa berdarah, seberapa berat perjuangan yang sudah dilakukan tidak akan bermakna baik bagi si pemarah.

Aku bukan ingin mengingat dan memendam luka, sungguh. Aku hanya sulit untuk tidak merasakan "sakit" yang seringkali ditorehkannya pada hati ini. Aku ingin menjadi seorang yang kuat dan tegar, walaupun kata teman-temanku, aku sudah menjadi orang yang tegar dan sabar.

Mungkin, sekuat baja tidaklah cukup untuk memiliki jiwa dan hati yang tegar. Mungkin memang aku harus menyelami laut untuk meniti spiritual di India, mendapatkan ketenangan dari dewi-dewi dan merasakan betapa berharganya diriku. Bukan terus diinjak dan terus merasa selalu ada yang kurang dari diri ini.

Jiwaku, teruslah temani aku untuk melangkahkan kaki dalam balutan luka yang sudah tertoreh di dalam tubuh ini.

dan ketika lagi nulisin rasa ini berputarlah lagu di playlist creed - don't stop dancing, diteruskan dengan coldplay - what if dan rasanya ingin mengalir lagi air mata ini.

01/07/14

Ramai Tahun Politik

Tahun 2014 adalah tahun politik bagi Indonesia, di mana setelah pemilihan umum legislatif dilanjutkan dengan pemilihan umum presiden. Dan, waow..sungguh ramai sekali tahun 2014 ini dengan berbagai argumen dari berbagai kalangan masyarakat.

Saya pun menjadi salah satu bagian karena saya merupakan bagian masyarakat Indonesia. kali ini, saya gemar sekali membaca berita-berita tentang capres kita dan tak urung berkomentar sedikit tentang capres. namun, saya berpikir, kenapa bisa seramai ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya? apakah karena tahun sebelumnya saya masih apatis dengan politik di Indonesia?

tapi, saya pikir, kali ini begitu ramai dan banyak yang berpartisipasi karena calon presiden kita hanya dua yaitu Bapak Jokowi dengan Bapak Prabowo dibarengi dengan cawapresnya yaitu Bapak Jusuf Kalla dengan Bapak Hatta Rajasa. Terlebih lagi, kedua capres itu merupakan tokoh yang namanya sudah booming sebelum mencalonkan diri. Bapak Jokowi dengan sepak terjangnya sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta serta Bapak Prabowo dengan sepak terjangnya sebagai Danjen Kopassus dalam Orde Baru.

hebatnya dalam pemilu ini bisa menggerakkan kepedulian masyarakat Indonesia tentang kemajuan bangsa dengan mengusung calonnya masing-masing. Saya salah satunya. Saya, orang yang termasuk apatis dengan politik di Indonesia, tapi saya pun terkadang penasaran dengan hal tersebut. Akhirnya, pemilu presiden saat ini, saya harus menunjukkan kepedulian saya akan kemajuan bangsa nantinya.

entah mengapa, pemilu presiden saat ini, saya merasa seperti masuk dalam orde baru. Saya seperti melihat aktivis-aktivis yang ingin menurunkan rezim orde baru yaitu terhadap salah satu calon. Seperti perjuangan reformasi yang terjadi dengan waktu dan situasi yang berbeda.

saya yakin ketika pemilihan nanti, rasa cemas dan jantung yang berdetak kencang serta resah bercampur aduk melihat siapakah yang akan memimpin kita lima tahun ke depan. saya yakin, suasana 9 Juli nanti seperti saat harap-harap cemas menanti Soeharto melalui siaran persnya menyatakan kalau ia mundur sebagai presiden.

jadi, pilihlah capres dari lubuk hatimu yang terdalam, jangan ada intervensi dan hasutan orang lain tapi yang memang benar kamu yakini. Jangan lupa, jaman sudah canggih, internet di mana-mana, gunakan smartphonemu untuk browsing hal-hal berguna terkait kedua calon. Jangan hanya mencari satu sumber tapi cari juga referensi lain. cari juga sejarah dan latar belakang kedua capres, dan hilangkan budaya judge a book by cover yang masih melekat di otak masyarakat Indonesia.

Gunakan suaramu, pilihlah yang bisa membawa perubahan untuk Indonesia..dengan memilih, kamu punya hak untuk protes akan kemajuan Indonesia :)